Postingan

Menampilkan postingan dengan label menulis

Mudik Bosnia 2018

Gambar
Menunaikan janji pada diri sendiri dan beberapa teman, gw bertekad akan merekam jejak perjalanan kami kali ini dalam bentuk tulisan dan foto2. Mumpung ada waktu gw mau crita pengalaman hari pertama kami tiba. Saat itu waktu menunjukan pk 12 siang waktu setempat. Entah krn kaptennya ambil rute yang lebih pendek atau nge-gas dengan kekuatan lebih , yg pasti penerbangan ini lebih cepat 20 menit dari rencana awal. Gw, adnan dan anak-anak keluar dari badan pesawat dengan agak tergesa karena kami semua kebelet pipis . Toilet yg disediakan sebelum pemeriksaan imigrasi di hadapan kami itu terbilang irit. Masing-masing rest room hanya memiliki 2 bilik toilet dan satu wastafel. Setelah menunggu bbrp saat gw dan belkisa masuk ke salah satu toilet perempuan. Selesai urusan toilet, gw inisiatif bongkar jilbab yang lebih 24 jam gw pakai dr serpong (saat rapotan hr kedua di sekolah), dan tentu bentuknya mulai awut2an. Seperti biasa gw ga pernah berlama-lama di depan cermin, ditambah dr luar gw de...

Perempuan Bosnia

Gambar
Sebelum kami pindah dan menetap di sini 9 tahun yang lalu, banyak org yang salah kaprah tentang negara ini. Mereka membayangkan bosnia adalah negara timur tengah dengan masyarakatnya yang religius. Bahkan tidak kalah banyak yang berpikir bosnia negara tertinggal atau dalam kondisi konflik perang. Terus apa jawabannya, kalau ditanya apakah bosnia negara tertinggal? Ruwet sekali untuk menjawabnya, mengingat ada banyak faktor untuk menentukan sebuah negara adalah negara maju, berkembang, atau bahkan tertinggal. Tapi sederhananya, coba bayangkan saja masyarakat negeri ini (juga negara2 balkan lainnya), sejak abad pertama selalu di bawah kekuasaan perdaban besar pada zamannya (romawi, otoman, hunggary dan yugoslavia), maka sesederhana apapun kehidupan masyarakatnya, pola pikir dan hidup mereka tidak jauh dg apa2 yang telah tertanam oleh diri mereka selama berabad-abad. Dan diksi "tertinggal" tidak akan pernah sesuai untuk mereka. Sementara kalau ada yang masih berfikir bahwa n...

Finally...Alhamdulillah

Gambar
Sejak 10 tahun lalu kepingin banget ambil diploma montessori dengan niatan bisa mengaplikasikan ke anak biologis. Tapi ketemu jodoh belajar ini 2 tahun lalu. Sementara itu saat ini anak-anak biologis usianya sudah lebih dari 6 tahun 😥 . Tapi untuk ilmu tak ada yang terlambat kan? Kalau telat untuk anak biologis, insyaAllah bisa diaplikasikan ke anak ideologis. Atau ga menutup kemungkinan untuk cucu-cucu gw kelak. Dan ibarat jodoh, walau ngejalaninnya dengan ikhlas tetap aja di dalamnya ada banyak ujian. Bersyukur belajar di sini mentor dan foundernya suport banget, hingga ujungnya berakhir indah begini 😍 Beberapa pekan lalu gw ga yakin, gw bs kelarin ini di tahun ini. Mungkin orang pikir, gw lebay sampe bisa2nya aplot beginian segala, sementara temen dan kerabat2 gw meraih gelar doctoral aja woles aje 🤣 . Hehe sebab gw tau banget betapa besar keinginan gw utk belajar ini, dan dari semua proses belajar yg pernah gw lalui, hanya di sini gw bisa pulang dar...

Dari Roll Film Hingga Pensieve

Orang yang segenerasi saya (atau bahkan lebih tua dari saya) pasti masih ingat, dulu kalau ada momen berharga, kaya piknik, acara kelulusan, pernikahan, dan semacamnya orang mengabadikan momen spesial tersebut dengan kamera yang sederhana (sederhana untuk ukuran kita sekarang sih, mungkin pada masanya udah paling modern). Saat itu kamera yang diandalkan harus pake roll film dengan teknologi analog. Setelah ambil satu foto, kita gak bisa liat hasilnya langsung saat itu juga. Kudu sabar nunggu roll filmya habis dulu (tanpa bisa diedit atau dihapus), kemudian dicetak di studio, dan taraaaa...baru kelihatan deh mana yang layak simpan. Setelah menunggu berhari-hari yang paling gondok adalah ketika mengetahui semua hasil foto 'kebakar'. Atau yang paling sering terjadi, saat dicetak, susah nemuin hasil foto yang 'sempurna'. Terkadang modelnya kefoto pada saat yang lagi merem-lah. Ada kalanya tong sampah ikut difoto dipojokan lah. Atau jempol si pemotret menghalangi pemand...